Monthly Archives: Juni 2011

Akhlak Terhadap Diri Sendiri

Standar

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan utama penciptaannya adalah untuk beribadah. Ibadah dalam pengertian secara umum yaitu melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Manusia diperintahkan-Nya untuk menjaga, memelihara dan mengembangkan semua yang ada untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dan Allah SWT sangat membeci manusia yang melakukan tindakan merusak yang ada. Maka karena Allah SWT membenci tindakan yang merusak maka orang yang cerdas akan meninggalkan perbuatan itu, dia sadar bahwa jika melakukan per buatan terlarang akan berakibat pada kesengsaraan hidup di dunia dan terlebih-lebih lagi di akhirat kelak, sebagai tempat hidup yang sebenarnya.
Arti akhlak secara istilah sebagai berikut; Ibnu Miskawaih (w. 421 H/1030 M) mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M) mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Secara umum akhlak atau perilaku/perbuatan manusia terbagi menjadi dua; pertama; akhlak yang baik/mulia dan kedua; aklak yang buruk/tercela. Read the rest of this entry

SKALA-SKALA TERMOMETER

Standar

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Setelah pada beberapa pertemuan sebelumnya yang telah menjelaskan tentang sejarah fisika dan lainnya. Begitu luas pembahasan yang dibahas di dalam ilmu fisika. Fisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Sifat yang dipelajari juga dalam fisika merupakan sifat yang ada dalam semua sistem, sehingga sifat semacam ini sering disebut sebagai hokum fisika. Salah satu contohnya adalah tentang hukum kekekalan momentum.
Berkaitan dengan ruang lingkup materi fisika, maka akan banyak dijumpai hal-hal yang bersangkutan dengan fisika, baik secara sadar maupun tidak. Gaya, momentum, suhu, pesawat sederhana, pegas, katrol dan lainnya adalah contoh materi yang terangkum dalam ilmu fisika serta dapat dipecahkan dengan ilmu fisika.
Mengenai ruang lingkup yang dipelajari dalam fisika begitu luas, ada suatu hal yang akan ditegaskan dalam makalah tersebut yaitu istilah suhu. Suhu merupakan suatu bagian dari ruang lingkup yang dipelajari di dalam ilmu fisika. Tanpa sadar atau tidak bahwa hampir setiap hari orang berhubungan dengan ilmu fisika. Hal kita ini bisa kita ambil dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti memasak air, mengukur suhu tubuh, dan lain sebagainya.
Suhu merupakan derajat panas yang dimiliki oleh suatu benda. Suhu tidak menyatakan berapa banyak panas atau kalor yang dikandung di dalam benda tersebut. Hal tersebut bisa kita artikan dengan sebuah analogi yaitu semakin banyak panas yang dimiliki maka semakin tinggi pula suhu benda tersebut, begitu juga sebaliknya jika panas yang dimiliki sedikit maka rendah jugalah suhu benda tersebut.
Suhu juga sama dengan besaran lainnya yaitu memiliki satuan. Namun setiap Negara memiliki penggunaan satuan suhu yang berbeda-beda. Tentunya untuk memperoleh hasil yang sama maka perlu adanya pengkonversian dari masing-masing tiap satuan suhu yang berbeda tersebut.
Untuk mengukur suhu suatu keadaan digunakan termometer. Termometer berasal dari bahasa Yunani, yaitu thermos dan meter. Thermos artinya panas, sedangkan meter artinya mengukur. Jadi, termometer merupakan alat untuk mengukur suhu. Termometer biasanya berbentuk sebuah pipa kaca sempit tertutup yang diisi dengan zat cair, seperti air raksa. Dalam sistem internasional besaran suhu menggunakan skala Kelvin (K), tetapi di Indonesia besaran suhu yang sering digunakan adalah Celsius (°C). Untuk penggunaan skala suhu juga bemacam-macam. Skala tersebut juga masing-masing berbeda satu sama lainnya. Read the rest of this entry

Matematika, Musik dan Kecerdasan

Standar

Berdasarkan pengamatan pada sejumlah anak, para peneliti dari Universitas California menyimpulkan bahwa belajar musik pada usia dini dapat meningkatkan kecerdasan (baca: kemampuan bernalar dan berpikir) dalam jangka panjang. Hasil penelitian ini begitu menarik perhatian sehingga buku The Mozart Effect karangan Don Campbell (1997), majalah Intisari (Februari 1997), harian London Sunday Times (Oktober 1997), dan terakhir majalah D & R (No. 12/XXIX/8, November 1997) merasa tergugah untuk menginformasikan kepada masyarakat.
Hasil penelitian tersebut memang pantas untuk disimak, walaupun seperti dikemukakan oleh musisi Suka Hardjana kepada majalah D & R bahwa hal itu sebenarnya sudah lama diketahui orang. Melalui tulisan ini, izikanlah saya untuk menyampaikan pandangan saya mengenai hasil penelitian tersebut dan mengaitkannya dengan peranan matematika dalam meningkatkan kecerdasan seseorang.
Hal pertama yang menarik untuk dicatat adalah bahwa hasil penelitian tersebut diperoleh secara objektif oleh Gordon Shaw dkk yang notabene adalah fisikawan, bukan oleh para musisi. Bila seorang musisi yang menyatakan bahwa musik itu perlu dipelajari karena bisa meningkatkan kecerdasan, orang mungkin tidak akan percaya begitu saja, karena pernyataan tersebut dapat dinilai subjektif.
Demikian pula halnya bila seorang matematikawan mengatakan bahwa matematika itu penting dan karenanya perlu dipelajari, orang mungkin akan bereaksi, “O, ya?” dengan nada tidak percaya. Namun ketika seorang musisi seperti Suka Hardjana menyatakan bahwa seseorang yang bermain musik sesungguhnya sedang bermatematika dan seluruh susunan syaraf otaknya bekerja, Anda baru sadar bahwa matematika (setidaknya melalui musik) melatih otak kita bernalar dan berpikir, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kecerdasan. Read the rest of this entry