Hubungan Karakteristik Rasulullah SAW Dengan Karakteristik Pendidik Dalam Al Qur’an Surah Ali ‘Imran

Standar

A.    SIDIQ

  1. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab. kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali ‘Imran : 19)
  2. Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali ‘Imran : 29)
  3. (Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali ‘Imran : 35)

Penjelasan :

Berkaitan dengan ayat-ayat diatas maka seorang pendidik harus memiliki sebuah karakter seperti Rasulullah yaitu sidiq. Seperti halnya Rasulullah yang selalu jujur kepada sahabatnya dan berdakwah dengan kejujuran dan penuh dengan keikhlasan. Kaitannya dengan karakter seorang pendidik ialah seorang pendidik menyampaikan ilmu atau sesuatu dengan jujur atau tidak berdusta, dan apabila ditanyakan sesuatu oleh anak didik yang tidak diketahui oleh pendidik, sebaiknya dijawab dengan sebenarnya dan jika tidak tahu maka jujurlah jangan menjawab yang tidak-tidak untuk menutupi kekurangan pendidik. Oleh sebab itu sebagai seorang pendidik dalam menjalankan tugasnya haruslah sepenuh hati dengan penuh keikhlasan sebagaimana  yang diterangkan dalam surah Ali ‘Imran ayat 35.

Dalam kaitannya dengan kompetensi seorang pendidik maka berkaitan dengan kompetensi kepribadian seorang pendidik. Hal tersebut dikarenakan didalam kompetensi kepribadian dijelaskan bahwa seorang pendidik harus bertindak objektif dan tidak diskriminatif terhadap peserta didik. Maksudnya dalam penilaian terhadap peserta didik harus benar-benar jujur yang sesuai dengan kemampuan peserta didik dan jujur dalam mendidik anak didik. Kejujuran merupakan sifat yang diperlukan oleh seorang pendidik dalam mendidik anak didiknya, sebab akan berpengaruh pada anak didiknya dan anak didiknya akan meniru sifat dari pendidik tersebut.

 

B.     AMANAH

  1. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing). (Ali ‘Imran : 33)
  2. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (Ali ‘Imran : 37)
  3. Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Ali ‘Imran : 38)
  4. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (Ali ‘Imran : 48)
  5. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. (Ali ‘Imran : 131)
  6. Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (Ali ‘Imran : 161)
  7. (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Ali ‘Imran : 172)

 

Penjelasan :

Berkaitan dengan ayat-ayat diatas maka seorang pendidik harus memiliki sebuah karakter seperti Rasulullah yaitu Amanah. Untuk menjadi pendidik yang berhasil, beliau telah mempersiapkan dirinya sedemikian rupa sejak sebelum diangkat sebagai Rasul. Beberapa pelajaran penting yang dapat dijadikan teladan antara lain; Pra Kerasulan : Memiliki sifat dapat dipercaya (al-amin), terlatih dalam suasana keprihatinan dan penuh tantangan, kesiapan diri untuk mandiri, tidak tergantung kepada orang lain, dan kondisi rumah tangga yang sangat menunjang pelaksanaan tugas. Dengan demikian seorang pendidik bisa menuntun anak didiknya dalam mempelajari sesuatu yang baik dan selalu berlaku baik. Selain itu seorang pendidik harus bisa mengemban kepercayaan sebagai pendidik serta menjalankan amanahnya dengan baik dan bisa menjaga anak didiknya agar tidak terjerumus dalam kemurkaan.

Dalam kaitannya dengan kompetensi pendidik, maka hal tersebut berkaitan dengan kompetensi professional, artinya bahwa dijelaskan dalam kompetensi professional seorang pendidik berkewajiban untuk meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi tersebut secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan IPTEK. Dengan profesionalnya seorang pendidik maka bisa menjalankan amanah dalam mendidik anak didiknya sehingga menghasilkan generasi yang berakhlak dan memiliki kompeten yang unggul. Sesuai dengan surah Ali ‘Imran ayat 37 seorang pendidik memantau perkembangan anak didik dan bisa menjalankan amanah untuk mendidik dengan benar dan penuh keihlasan dalam menjalankannya.

 

C.    FATHONAH

  1. Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. (Ali ‘Imran : 3)
  2. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali ‘Imran : 7)
  3. (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Ali ‘Imran : 76)
  4. Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Ali ‘Imran : 79)
  5. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?.” (Ali ‘Imran : 80)
  6. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (Ali ‘Imran : 136)
  7. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Ali ‘Imran : 190)
  8. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali ‘Imran : 191)

 

Penjelasan :

Berkaitan dengan ayat-ayat diatas maka seorang pendidik harus memiliki sebuah karakter seperti Rasulullah yaitu Fathonah. Artinya untuk menjadi seorang pendidik harus memiliki kecerdasan dan akal yang sehat, sehingga bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Hal tersebut tentulah sangat berpengaruh bagi peserta didik, sebab mempengaruhi tingkat kecerdasan anak didik dan sifat anak didik tersebut. Selain itu perlunya dasar pengetahuan yang kuat dan  menyampaikannya dengan benar, tegas, serta bisa mengarahkan anak didik ke jalan yang benar. Dengan kecerdasan tersebut, seorang pendidik dapat memberikan pengetahuan dengan baik dan bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam proses mendidik.

Karakteristik tersebut berhubungan dengan kompetensi pendidik dari segi kompetensi pedagogic, sebab dalam kompetensi tersebut diperlukan kecerdasan dalam merencanangkan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, menilai serta mengevaluasi hasil pembelajaran tersebut dan menindaklanjuti hasil evaluasi. Jadi seorang pendidik yang cerdas dapat melakukan hal yang terbaik untuk selalu meningkatkan pengetahuan anak didiknya.

D.    TABLIGH

  1. Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (Ali ‘Imran : 4)
  2. (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Ali ‘Imran : 11)
  3. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali ‘Imran : 18)
  4. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali ‘Imran : 20)
  5. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk. (Ali ‘Imran : 36)
  6. Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (Ali ‘Imran : 104)
  7. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Ali ‘Imran : 110)
  8. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali ‘Imran : 119)
  9. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Ali ‘Imran : 125)
  10. Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (Ali ‘Imran : 132)
  11. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (Ali ‘Imran : 134)
  12. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali ‘Imran : 146)
  13. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali ‘Imran : 159)
  14. Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Ali ‘Imran : 164)
  15. (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Ali ‘Imran : 172)
  16. Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu  ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. (Ali ‘Imran : 187)
  17. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (Ali ‘Imran : 200)

 

Penjelasan :

Berkaitan dengan ayat-ayat diatas maka seorang pendidik harus memiliki sebuah karakter seperti Rasulullah yaitu Tabligh. Artinya Rasulullah selalu menyampaikan ajaran dari Allah SWT kepada umatnya, tidak ada yang disembunyikan olehnya. Dengan demikian seorng pendidik bisa mencontoh dari karakteristik Rasullah yaitu Tabligh yang mana menyampaikan ilmunya kepada anak didik untuk tujuan yang baik. Selain itu seorang pendidik juga harus bersikap sabar, lemah lembut, dan tidak emosi ketika menyampaikan pengetahuan serta mendapat kritikan atau bantahan dari orang yang menilainya. Kemudian pendidik mampu meluruskan permasalahan yang tidak sesuai dengan ajaran dari Allah SWT. Pendidik tidak hanya menyampaikan ajarannya begitu saja, tetapi juga diiringi dengan sifat tawakkal kepada Allah terhadap apa yang telah kita sampaikan. Dalam menyampaikan ajaran atau ilmu, pendidik tidak boleh menyinggung atau membuat orang sakit hati sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial atau perpecahan. Pendidik menyampaikan ilmu atau ajaran harus didasari juga dengan dasar yang kuat dan dapat mengajak anak didik ke jalan yang benar.

Kaitannya dengan kompetensi pendidik, hal ini berhubungan dengan kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Dimana seorang pendidik berkewajiban memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa dan dapat menerapkan kerjasama dalam pekerjaan di lingkungan sosial, lingkungan sekolah maupun masyarakat.

 

A.    Hubungan Qur’an Surah Ali ‘Imran dengan Qur’an Surah Al Muzzammil

  1. Pendidik itu mengajarkan atau mendidik dilakukan dengan bertahap atau langkah demi langkah, agar peserta didik lebih memahami atau apa yang kita lakukan tidak sia-sia dan jika ada kesulitan atau hambatan dari setiap tahapan maka hadapi dengan sabar serta dipecahkan masalahnya agar tidak terjadi pada tahap berikutnya. (Ditopang oleh Qur’an Surah Al Muzzammil ayat 4 dan 5).
  2. Pendidik itu bersabar, harus bersikap lemah lembut, bisa menahan emosi. Jika terdapat bantahan atau sanggahan terhadap apa yang disampaikan maka bantahlah dengan cara yang baik dan jika masih membantah maka tinggalkanlah dengan cara yang baik pula dan bertawakkal kepada Allah agar orang yang membantah diberikan petunjuk. (Ditopang oleh Qur’an Surah Al Muzzammil ayat 10 dan 11).
  3. Seorang pendidik jangan bersifat durhaka terhadap apa yang dididiknya dan jangan mencontoh fir’aun serta bisa menjaga dirinya dan anak didiknya. (Ditopang oleh Qur’an Surah Al Muzzammil ayat 16 dan 17).

B.     Hubungan Qur’an Surah Ali ‘Imran dengan Qur’an Surah Al Muddatstsir

  1. Seorang pendidik, jika menemukan kesalahan maka tegurlah dengan tegas dan beri peringatan, agar tidak terus berada di jalan yang sesat, serta meninggalkan perbuatan yang keji dan tetap bersabar. (Ditopang oleh Qur’an Surah Al Muddatstsir ayat 2, 5 dan 7).
  2. Seorang pendidik jangan berbohong dan berlaku sombong, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan tidak mempercayai kebenaran dan menyampaikannya. (Ditopang oleh Qur’an Surah Al Muddatstsir ayat 19, 20, 23, 26  dan 29).

Seorang pendidik harus bisa mendidik dan mengajak anak didik ke jalan yang benar, menyampaikan ilmunya dengan jelas, mempunyai rasa prihatin terhadap orang lain dan tidak berdusta. (Ditopang oleh Qur’an Surah Al Muddatstsir ayat 42-56).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s